TNO, BUA LUWU – Menghadapi musim kemarau berkepanjangan yang berdampak pada ketersediaan air bersih serta meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), manajemen PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) menggelar salat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.
Kegiatan tersebut berlangsung di Lapangan Mini Soccer PT BMS, Desa Karang-karangan, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Rabu (21/10/2026), sekitar pukul 08.30 WITA.
Salat Istisqa ini diikuti pimpinan PT BMS, Ma’rifat Pawellangi, bersama Manager PT BMS, Aldin, puluhan karyawan perusahaan, serta para santri Ma’had Tahfidz Bukaka Luwu. Mereka berkumpul untuk melaksanakan ibadah sekaligus memanjatkan doa agar hujan segera turun dan kondisi alam kembali membaik.

Pimpinan PT BMS, Ma’rifat Pawellangi mengungkapkan bahwa salat Istisqa tersebut dilaksanakan sebagai wujud harapan agar Allah SWT segera menurunkan hujan dan memberikan pertolongan kepada masyarakat yang tengah menghadapi dampak kemarau.
“Melalui salat Istisqa ini, kami memohon kepada Allah SWT agar hujan segera diturunkan. Kami berharap kemarau panjang yang dirasakan masyarakat dapat segera berakhir, sehingga kebutuhan air dapat terpenuhi dan kondisi lingkungan kembali membaik,” harapnya.
Pelaksanaan salat Istisqa tersebut menjadi salah satu bentuk ikhtiar di tengah kondisi kemarau yang berkepanjangan. Kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah telah menimbulkan kekhawatiran masyarakat, terutama berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan air sehari-hari dan dampak yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan serta lahan.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat di berbagai daerah harus melakukan beragam upaya untuk memperoleh air demi memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ketersediaan air menjadi persoalan penting ketika hujan tak kunjung turun, sementara kondisi lingkungan semakin rentan akibat cuaca kering.
Sementara itu, Manager PT BMS, Aldin, menekankan pentingnya kebersamaan antara jajaran perusahaan, karyawan, dan masyarakat dalam menghadapi kondisi alam yang sulit diprediksi.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin bersama-sama memanjatkan doa agar hujan segera turun, khususnya di Kabupaten Luwu dan wilayah lain yang mengalami kekeringan. Kami berharap doa yang dipanjatkan hari ini membawa kebaikan bagi masyarakat luas,” harap Aldin.

Bagi masyarakat yang menggantungkan kebutuhan sehari-hari pada ketersediaan air, turunnya hujan bukan sekadar perubahan cuaca. Hujan menjadi harapan untuk kembali memenuhi kebutuhan dasar, menjaga sumber air, serta mendukung aktivitas masyarakat yang terganggu akibat kekeringan.
Semoga ikhtiar dan doa yang dipanjatkan bersama tersebut membawa keberkahan bagi Kabupaten Luwu dan daerah-daerah lain yang membutuhkan hujan, serta menjadi pengingat akan pentingnya menjaga alam dan memperkuat kepedulian terhadap sesama. (her)

